Sukses dan Berhasil Berkat Budidaya Ikan Koi

By | October 11, 2018

Hobi merawat ikan hias memang sudah meluas di masyarakat. Apalagi keanekaragaman ikan hias sangat banyak. Padahal, menurut pecinta ikan hias, memelihara ikan hias dipercaya bisa mengurangi stres pada manusia. Tidak hanya itu, ikan hias kini mulai berkembang menjadi peluang bisnis yang memiliki potensi besar jika dikembangkan secara serius.
Tingginya minat terhadap ikan hias, tak pelak membuat petani dan pemasar ikan semakin banyak yang mencoba ikan hias sebagai komoditas andalan yang berpotensi meningkatkan perekonomian nasional.

Tidak hanya itu, ikan hias yang dibudidayakan di Indonesia juga berpotensi untuk diekspor. Nah, salah satu jenis ikan hias yang kini sedang dibudidayakan dan berpotensi berayun di pasar luar negeri adalah ikan koi.

Ini dialami oleh Hartono, warga Dusun Dangkel Wetan, Desa Karangtalun, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang. Berkat cintanya pada ikan koi, ia sekarang menjadi pengusaha sukses dengan omset yang sangat menguntungkan.

Gagasan ini muncul ketika Gunung Merapi meletus beberapa tahun yang lalu yang menghancurkan perekonomian masyarakat setempat termasuk Hartono. Dia juga tidak kehabisan akal untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Berkat sikapnya yang teguh, pada tahun 2011, ia akhirnya menemukan ide untuk mengembangkan hobinya sebagai mata pencaharian utama, yaitu dengan membudidayakan ikan koi.

“Sejauh ini, saya sangat suka memelihara ikan koi.” Saya pikir ikan ini memiliki pola tubuh yang sangat indah penuh nilai artistik, “katanya.

Selain bibit, ia juga menjual anakan koi yang masih berumur dua bulan dengan banderol Rp1.000 per ekor. Bahkan, ikan koi yang telah tumbuh cukup matang dengan pola-pola tertentu di tubuhnya, laku hingga jutaan rupiah.
Di kolamnya, saat ini terdapat berbagai jenis ikan koi. Diantaranya adalah Kohaku, Thaiso Shanke, Showa Sansoku, Asagi, Ushui, dan Tancho. Menurutnya, memelihara koi sebenarnya tidak terlalu sulit.

Pada usia nol hingga dua minggu, ikan cukup diberi makan dengan cacing atau bakteri air yang ditemukan di alam liar. Setelah memasuki usia dua minggu, makanan ikan diganti menggunakan pelet.

“Yang paling penting sebenarnya adalah masalah kadar oksigen di kolam. Jika kurang, koi bisa stres dan bahkan memicu kematian,” jelasnya.

Dari hasil budidaya ikan koi dari Jepang, Hartono mengaku mampu mengumpulkan omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulan. Permintaan terus mengalir dari berbagai penjuru negeri. Tidak hanya di sekitar Jawa, tetapi telah menyebar ke Papua, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

“Penggemar Koi di Indonesia memang cukup tinggi karena mereka memiliki fitur khusus berupa pola warna pada tubuh,” pungkas Hartono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *